Bani Jadzimah (1): Ketika Misi Dakwah Berubah Menjadi Krisis
Pada tahun 8 Hijriah (630 M), setelah kemenangan monumental dalam Fathu Makkah, Rasulullah saw. memasuki fase baru dakwah Islam: konsolidasi internal dan penguatan pengaruh ke berbagai kabilah Arab.
Fathu Makkah yang terjadi pada bulan Ramadan 8 H bukan hanya kemenangan politik, tetapi juga momentum strategis untuk memperluas penerimaan Islam secara lebih damai. Karena itu, Rasulullah saw. mengirim sejumlah delegasi ke berbagai wilayah guna mengajak kabilah-kabilah Arab menerima Islam.
Di antara delegasi tersebut, Rasulullah saw. mengutus Khalid ibn al-Walid menuju Bani Jadzimah.
Khalid adalah salah satu panglima paling cemerlang dalam sejarah Islam. Reputasi militernya sangat tinggi hingga Rasulullah memberinya gelar:
سَيْفُ اللهِ الْمَسْلُولُ
Saifullah al-Maslul
(Pedang Allah yang Terhunus)
Namun justru melalui peristiwa ini, sejarah mengajarkan bahwa bahkan kader terbaik tetap dapat melakukan kesalahan serius.
Sebagaimana dijelaskan syaikh Sa'id Ramadhan al Buthy, mempelajari sirah bukan sekadar mengenang heroisme masa lalu, tetapi memahami bagaimana Islam diterapkan dalam realitas kehidupan, keputusan, dan kepemimpinan.
Misi Dakwah, Bukan Ekspedisi Perang
Hal penting yang harus dipahami adalah konteks misi Khalid.
Ia diutus bukan untuk berperang, tetapi untuk berdakwah.
Setibanya di wilayah Bani Jadzimah, penduduk setempat telah meletakkan senjata dan menyampaikan:
صَبَأْنَا، صَبَأْنَا
“Kami telah berpindah agama.”
Dalam kultur Arab, ungkapan tersebut umum dipakai untuk menunjukkan perpindahan keyakinan, meski tidak menggunakan istilah formal “aslamna”.
Namun Khalid tidak menerima ungkapan itu sebagai deklarasi Islam yang valid.
Diduga, pengalaman konflik masa lalu serta insting militernya yang sangat kuat membuat ia membaca situasi ini sebagai ancaman potensial.
Keputusan pun berubah.
Khalid memerintahkan penawanan. Dalam perkembangan berikutnya, sebagian tawanan dibunuh oleh pasukan yang mengikuti instruksinya.
Riwayat klasik tidak selalu seragam dalam menyebut angka korban. Namun seluruh sumber utama sepakat bahwa telah terjadi tindakan keliru yang menimbulkan korban jiwa serta mengganggu citra dakwah Islam.
Di sinilah misi dakwah berubah menjadi krisis legitimasi.
Koreksi dari Dalam Barisan
Kesalahan ini tidak diterima begitu saja oleh semua sahabat.
Beberapa sahabat senior yang ikut bersama Khalid, seperti Abdullah ibn Umar dan Abd al-Rahman ibn Awf, menolak menjalankan perintah tersebut.
Mereka menilai Bani Jadzimah telah menunjukkan tanda-tanda keislaman.
Sikap ini menunjukkan budaya organisasi generasi sahabat: loyalitas kepada pemimpin tidak menghapus tanggung jawab moral.
Peristiwa Bani Jadzimah menjadi pelajaran penting bahwa kekuatan tanpa sensitivitas dakwah dapat menghasilkan kerusakan yang justru merugikan misi besar Islam.
Sirah tidak menghadirkan sahabat sebagai tokoh tanpa cela, tetapi sebagai manusia besar yang juga diuji oleh keputusan-keputusan sulit.
Dan justru dari keterbukaan sejarah inilah umat belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kemenangan, tetapi kemampuan membaca konteks, menjaga amanah, dan memastikan dakwah tetap berada dalam koridor keadilan dan rahmat. (an)

Comments
Post a Comment